Maybrat, Petarung.org- Pasar Kumurkek, Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, provinsi papua barat daya. Adalah salah satu pasar lingkungan dan pasar lokal yang selalu terlihat ramai oleh pedagang dengan jualan pangan lokal. Mereka sudah mulai jualan sejak pagi sampai sore hari untuk menjaga harapan dan kelangsungan hidup mereka lewat jualan hasil kebun.
“kami pedagang disini, datang dari beberapa kampung dan kita selalu aktif untuk jualan tergantung hasil kebun kalo ada kita jualan, kalo tidak kita biasa haru ke kebun lagi,” ujar mama Jitmau yang datang jualan dari kampung Susumuk menuturkan kepada Petarung.org Senin, 15/12/2025.
Ia menambahkan, pedagang yang aktif di pasar Kadang 11 sampai 15 orang mama-mama pedagang yang aktif berjualan di pasar ini. Sebagian mama-mama ini berasal dari berbagai kampung seperti; Susumuk, Ikhor, Kumurkek, Kamat, Bohsa, Martaim, dan Kokas. Menjual Beragam hasil bumi terhampar di atas tikar dan meja seadanya
Jualan hasil kebun mereka seperti sayuran hijau: sayur gedi, jantung pisang, bayam, daun kasbi, boncis, sawi, kol, kol daun, kol kepala, daun petatas, kangkung, gambas, daun labu, dan terong, ricak, bumbu dan umbi: kunyit, rica (cabai), keladi johar, konde keladi, dan petatas (ubi jalar). buah-buahan: pisang, pepaya, nanas, dan tomat. Tak lupa, sayur lilin dan jagung bakar.
“semua jualan ini kita ambil dari kita punya hasil kebun yang sebelumnya kita panen untuk dipasarkan,” ujarnya.
Mama Katarina Tenauw dari Kampung Fait Sawe menambahkan, Pasar ini biasa ramai dari hari Senin sampai hari Kamis.
“Jualan yang laris kalau orang Maybrat, suka beli sayur gedi dan itu sayur yang paling cepat habis. Tapi kalau pendatang, mereka suka boncis dan sawi. Hari ini saya bawa sayur bambu atau ubah, daun labu, gedi, bayam, dan tagas.” Ujar mama Katarina.
Ia menambahkan, ia berjualan demi menyekolahkan anak dan untuk penuhi kebutuhan keluarga. soal kendala disini mungkin perjalanan menuju pasar Kmurkek saja yang lumayan jauh, kadang kami naik ojek, atau menumpang di keluarga yang ke kantor. Kalau tidak ada kendaraan kami jalan kaki dari Kampung Fait Sawe. Sayur ditaruh di gerobak, suami dorong sampai Kampung Sune. Kalau hujan, ya kami mandi hujan di jalan,” ujarnya.
Angkutan umum dari kampung sune ke Pasar Kumurkek. Biaya angkutnya Rp 15.000,- (Lima Belas Ribu Rupiah), jika dagangan tidak habis, ia memilih memberikannya kepada mama-mama lain yang mau memborong, agar ia bisa segera pulang.
“Dari hasil penjualan inilah, saya mampu menamatkan pendidikan anaknya hingga meraih gelar sarjana dan itu kami lakukan dengan keringat sendiri dan tekun berkebun dan jualan,” tandasnya.
Dari tangan ini dan dari tanah ini kami hidup dan meneruskan kehidupan keluarga kami, untuk anak-anak yang sedang menempuh pendidikan, ingat jangan pernah sia-siakan hasil keringat orang tua kita Masyarakat kecil ini tidak punya gaji tapi kita selalu dapat berkat lewat jualan.
“Kita Masyarakat kecil juga harus punya mimpi untuk merubah nasip anak-anak kita ke depan sukses seperti orang lain sekalipun kita hanya petani,” ujarnya. (CR2)




