Oleh: Imanuel Tahrin (*)
Siang itu, kami melaju dengan mobil dari Tanah Moi menuju Kabupaten Maybrat, didampingi oleh Bapak Habel Assem dan Bapak Marinus Way. Sepanjang perjalanan, kami ditemani alunan lagu Rio Grime. Lagu itu seolah menjadi jembatan waktu, mengantarkan pikiran kami kembali ke masa lalu.
Untuk menemani perjalanan yang cukup jauh, kami mulai bercerita. Dalam obrolan tersebut, Bapak Marinus Way menjelaskan sejarah Marga Way. Rasa penasaran saya muncul, sehingga saya meminta beliau, “Bapak, coba ceritakan kepada kami. Nanti akan saya unggah di media sosial lainnya agar banyak orang yang mendapatkan informasi tentang perjalanan leluhur Marga Way di Kabupaten Maybrat.”
Beliau pun memulai berkisah, Konon awal mula Marga Way bermula dari Serui. Saat itu, terjadi perselisihan antara kakak beradik gara-gara buah mangga. Sang adik merasa marah dan memutuskan untuk pergi. Ia membawa seekor burung Urep sebagai penunjuk jalan. Ia mendayung perahu dari Serui hingga tiba di daerah Teminabuan, yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Sorong Selatan.
Dari sana, ia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke arah gunung. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan suku Bohantar. Mereka tinggal di dalam sebuah lubang kayu raksasa dalam bahasa Maybrat disebut Kayu Rafa.
Ketika burung Urep yang dibawanya berteriak, ia mengambil kapak dan membelah Kayu Rafa tersebut. Ternyata, di dalam kayu itu terdapat manusia. Ia kemudian mengeluarkan keluarga suku tersebut dari dalam kayu. Setelah itu, ia tinggal bersama mereka sejenak sebelum melanjutkan perjalanan hingga tiba di Kampung Ayawasi.
Di sana, ia belum menikah. Sampai ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Fatie yang tinggal di dekat mata air. Keduanya akhirnya kawin dan dikaruniai seorang anak laki-laki.
Ketika anak itu berusia tujuh tahun, sang ayah mengajaknya pergi mencari udang di mata air menggunakan alat tangkap tradisional berupa tali, yang dalam bahasa Maybrat disebut Sna.
Mereka asyik menangkap udang hingga jumlahnya banyak. Tiba-tiba, mereka melihat kain Timur (Kain Tenun) yang tampak naik dari dasar air. Dalam bahasa Maybrat, fenomena ini disebut “Bo mbam Aya taa maut”.
Ia mulai menarik kain-kain tersebut satu per satu hingga mendapatkan empat helai kain. Air di sekitarnya terlihat sangat jernih. Saat ia menoleh ke belakang, ia terkejut karena anak laki-lakinya yang tadi duduk di belakangnya telah hilang lenyap. Anak itu menjadi tumbal bagi alam, atau dalam istilah lokal disebut Kabes Moo.
Dengan hati hancur, ia segera pulang ke rumah. Setibanya di rumah, ia berkata kepada istrinya, Mama tutup pintu semua “Mama, nesiut mata wisau”. Ia kemudian mengambil kain-kain yang didapatkannya dari tas, lalu menjemurnya di Kaberiu (para-para) hingga kering.
Kain-kain itu dikenal sebagai Wan, atau kain pusaka milik Marga Way. Setelah kain kering, istri mertuanya bertanya, “Baru anak mana?” (Di mana anak itu?).
Sang bapak menjawab dengan berat, “Mama, jangan tanya anak itu. Kain inilah yang kita ambil. Anak itu sudah menjadi tumbal.”
Mertua itu terdiam dan bersedih dari malam hingga pagi. Karena kesedihan dan kemarahan yang mendalam, pasangan suami istri tersebut memutuskan untuk meninggalkan Ayawasi. Mereka berjalan mencari tempat baru untuk menetap, meninggalkan kenangan pahit atas hilangnya anak mereka.
Perjalanan mereka berlanjut hingga ke Kampung Sirin. Saat melihat ke belakang, mereka melihat pohon raja masih melambai-lambai. Mereka terus berjalan hingga ke Subrit, dan saat melihat ke belakang lagi, pohon raja itu masih tampak melambai. Perjalanan dilanjutkan hingga ke Faitbohe, di Kampung Fait Ase.
Saat ia menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, pohon itu sudah tidak kelihatan lagi. Ia pun mengucapkan dalam bahasa Maybrat, “Ee seseroh,” dan tiba-tiba muncullah mata air Seseroh. Di situlah mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal.
Marga Way mulai berkembang biak dimulai dari Kampung Faitase yang berarti “Pohon Fait yang Besar”. Saat tinggal di sana, mereka melihat ada orang lain yang sedang berkebun di wilayah Way U (dalam bahasa Indonesia berarti “Orang Marga Way yang tinggal di atas/hulu”).
Orang-orang dari marga Homer sedang membuka kebun di area tersebut.
Leluhur Marga Way menghampiri dan ikut membantu membakar lahan. Sebagai bentuk pembayaran atau penghargaan atas bantuan tersebut, orang Homer memberikan seorang perempuan bernama Sakor Homer. Sakor adalah tuan tanah di wilayah Athabu, Way U, hingga Moswaren.
Leluhur Marga Way tinggal di sana, beranak cucu, dan akhirnya menikahi istri kedua dari marga Singgir. Dari dua istri tersebut, lahirlah dua anak laki-laki bernama Merah dan Rumangun.
Istri kedua (dari marga Singgir) membawa keturunannya ke wilayah bawah, sementara istri pertama menetap di Kampung Way Bomatah.
Berdasarkan cerita ini, Marga Way terbagi menjadi beberapa sub-marga, yaitu:
Way Bomatah, Way U, Way Tee, Way Krum, Way Askato, Way Fatie, Way Bewer, Way Hsiyo, Way Aya, dan Way Aban.
Cerita sejarah leluhur ini semakin terasa hidup dan menarik. Seiring dengan berakhirnya kisah tersebut, lagu kembali mengalun menemani perjalanan panjang kami.
Tanpa terasa, kami tiba di Bandara Kambuaya. Bapak Marinus Way pun turun dan akan lanjut ke rumahnya.
Meskipun kami berpisah dengan salam dan jabat tangan, cerita tentang Marga Way ini telah terpatri rapi dalam ingatan saya, menjadi ingatan abadi.
Mobil kembali melaju, membawa kami melanjutkan perjalanan hingga tiba di Kampung Susumuk. Maybrat, 21 Juni 2026. (*)
(*) Imanuel Tahrin Adalah pemerihati lingkungan dan pendiri Yayasan Petarung Papua Kabupaten Maybrat
Catatan: Kisah Marga Way ini dituturkan oleh Marinus Way, pria parubaya asal Kampung Eway, Distrik Aitinyo Tengah.





