Sorong, Petarung.org- Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Grup Mambesak yang ke 48 Tahun. Seniman dan Aktivis Papua di Sorong Raya gelar malam refleksi bagi perjuangan Kelompok musik (Mambesak) yang aktif pada tahun 1970-1980an yang menggunakan lagu dan seni musik tradisional sebagai sarana melestarikan budaya serta menyuarakan harkat hidup orang asli Papua.

Malam refleksi HUT Mambesak ini, diisi dengan Nobar Filim Dokumenter Mambesak, diskusi dan Refleksi, kegiatan ini diselenggaran di Kompleks Yayasan Bengkel Pembelajaran Rakyat (Belantara) Papua, HBM, Kota Sorong Provinsi Papua Barat Daya. Rabu (5/8/2026)

Lagu “Hidup itu suatu misteri” karya Mambesak, membuka acara malam itu dan beberapa lagu lagu karya Mambesak. Lagu-lagu yang menggambarkan realitas kehidupan, pencarian identitas, serta refleksi atas penderitaan dan sejarah panjang masyarakat Papua. Lagu ini dibawakan oleh komunitas akustik di Belantara dan selanjutnya pemutaran filim Dokumenter Mambesak kurang lebih 2 jam selesai itu refleksi dan diskusi.

Kegiatan ini, mengenang dedikasi 5 Agustus 1978 silam seorang Kurator museum UNCEN, musisi, dan antropolog Papua dkk yang memperjuangkan budaya. Bagaimana hari ini melihat perjuangan dan dedikasi perjuangan Arnold Ap dan Kawan-kawan dalam membangun budaya orang Papua, lewat seni musik tradisional, tari,ukir dan seni lukis serta cerita jenaka yang ada disekitar orang Papua masa itu.

Lagu dengan bahasa daerah dari 9 Kabupaten sejak tanah ini masi bernama Irian Jaya, Mambesak sebagai Kelompok musik yang aktif menggunakan lagu dan seni sebagai sarana melestarikan budaya orang asli Papua.

Mambesak artinya Cenderawasih dalam Bahasa Byak, sehingga nama ini menginspirasi untuk menjadikan satu kelompok kesenian yang Bernama Mambesak.

Mambesak mampu sebagai media yang menyatukan antero rakyat Papua di 9 Kabupaten masa itu. Walau dengan kondisi alat musik terbatas, kemajuan teknologi terbatas, mereka mampu berbuat banyak untuk menjaga kebudayaan orang Papua dan membangun persatuan orang Papua.

“Hari ini, kita hidup di teknlogi yang semakin canggih, generasi Papua ada dalam kemewahan dan kesempatan yang besar untuk berbut lebih dalam menjaga Budaya Papua, lebih dari Mambesak namun sayang orang Papua sibuk, ingat diri sendiri, ingat kampung sendiri, ingat suku sendiri karena sudah hidup dalam kemajuan namun masi primordialisme kental dan hidup mengkotak-kotakan manusia seiring berjalannya waktu karena pemekaran Kabupten,Kota dan Provinsi di Papua,”  kata Sem Awom, Masyarakat adat dan Seniman Papua mengawali diskusi malam releksi.

Ia menambahkan, mambesak didirikan di Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih pada 5 Agustus 1978. Mambesak berkarya dengan menampikan budaya asli Papua lewat tari, cerita lucu (Mop), kata dan irama dan mereka merasa terpanggil untuk harus bernanyi.

“Mereka bekerja siang malam dengan penyair alam, dengan orang tua, muda, laki laki, perempuan dari kampung ke kampung terpencil mereka jalan dan mereka datangi untuk menghimpun lagu-lagu rakyat yang berkembang di kampung, untuk dibawakan di dapur rekaman, ini sesuatu yang luar biasa dan Mambesak termasuk media pemersatu dimasanya” ucapnya.

Semua karya Mambesak hari ini tetap dikenang, dilestarikan serta menjadi milik semua orang di seluruh Tanah Papua. Hal yang sama seperti Arnol Ap dkk juga yang dihidupi oleh alm. Max Binur di Sorong Raya ini, jika dilihat Belantara Sorong embrionya masi dari Mambesak karena itu yang diperjuangkan mediang Max semasa hidup

“Mambesak menyanyi untuk hidup dulu, kini dan nanti, Max menjaga tradisi itu di Sorong Raya ini dengan Belantara. ini malam, untuk Mambesak dan Malam Refleksi dan Mengenang Max juga, mari kita hidupi hal hal baik yang mereka sudah tinggalkan sebagai warisan budaya dan semangat pemersatu bagi orang papua,” ujarnya.

Mambesak Harus Hidup, Belantara Papua harus hidup dan menjadi simbol perenungan mendalam serta kebangkitan identitas kultural masyarakat Papua yang akan datang. Mereka menyanyi dan bekerja menyiratkan kepedihan dan ironi atas kondisi sosial, melihat marginalisasi dan meramalkan ruang hidup yang mereka yakini akan terus hilang dan keadaan orang Papua yang terus merena tanpa harapan. (CR1)