Oleh: Imanuel Tahrin (*)
Malamitu, Senin 9 Februari 2025, Kampung Susumuk di Distrik Aifat seolah tenggelam dalam simfoni alam. Hujan rintik jatuh membasahi tanah Maybrat yang gelap. Sementara guntur bersahutan di kejauhan, memberi tanda akan kehadiran kekuatan yang lebih besar dari sekadar cuaca.
Udara terasa dingin. Kabut tipis perlahan turun dari lereng-lereng hutan yang mengelilingi kampung. Di bawah atap rumah kayu yang sederhana, lampu temaram menyala redup. Di sana, beberapa tetua duduk melingkar. Suara mereka tidak keras, tetapi penuh wibawa.
Mereka sedang berbincang tentang sesuatu yang tampaknya sederhana tentang keret atau marga. Namun bagi orang Maybrat, itulah jantung dari identitas. Saya duduk diam mendengarkan. Di luar, hujan terus menari di daun-daun hutan.
Di dalam, kata-kata para tetua seperti membuka pintu yang lama tertutup dalam ingatan kolektif. Malam itu, saya menyadari bahwa cerita tentang marga bukan sekadar genealogis. Ini adalah kisah tentang hubungan manusia dengan alam semesta.
Bagi masyarakat Maybrat, identitas tidak lahir dari ruang hampa. Tidak sekadar berasal dari penamaan manusia atau keputusan administratif. Identitas adalah peristiwa kosmologis, sesuatu yang tumbuh dari relasi antara manusia, alam, dan dunia roh.
Para tetua di Susumuk malam itu menjelaskan bahwa keret atau marga tidak pernah dipilih secara sembarangan. Lahir dari pengalaman spiritual dan ekologis nenek moyang yang berjumpa dengan alam.
Ada marga yang berasal dari dunia pohon. Misalnya keret Sowe, yang dikaitkan dengan kekuatan batang kayu yang kokoh. Pohon bagi masyarakat Maybrat bukan sekadar organisme hidup, melainkan simbol perlindungan dan keberlanjutan.
Dari pohonlah manusia memperoleh rumah, kayu bakar, dan bahkan tempat berteduh dari hujan seperti malam itu. Ada pula keret Way, yang berasal dari pohon pinang. Pinang bukan sekadar tanaman, tapi bagian dari kehidupan sosial.
Dalam banyak masyarakat Melanesia, pinang dan sirih menjadi medium perjumpaan, diplomasi, bahkan rekonsiliasi konflik. Antropolog seperti Marshall Sahlins pernah menulis bahwa dalam masyarakat kepulauan Pasifik, benda-benda alam seperti tanaman atau hewan sering menjadi simbol hubungan sosial yang kompleks.
Selain pohon, ada marga yang mengambil inspirasi dari dunia angkasa. Keret Iek, misalnya, yang mengambil filosofi dari burung. Burung dalam imajinasi masyarakat Maybrat melambangkan kebebasan, kejelian, dan kemampuan melihat dunia dari ketinggian. Menjadi simbol visi, sebuah kemampuan untuk membaca arah hidup.
Di dunia yang penuh perubahan, filosofi ini mengingatkan bahwa manusia tidak boleh hanya berjalan di tanah. Ia harus sesekali “terbang”, melihat hidup dari perspektif yang lebih luas.
Lalu ada pula keret yang berasal dari dunia keindahan. Keret Tahrin, misalnya, yang merepresentasikan bunga. Bunga tidak selalu besar atau kuat seperti pohon, tetapi ia memiliki kemampuan lain: keindahan dan keharuman.
Dari bunga mengajarkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang kekuatan, melainkan juga tentang kehalusan, harmoni, dan kemampuan memberi makna bagi yang lain.
Kosmologi Hutan
Ketika para tetua berbicara tentang marga, mereka sebenarnya sedang membicarakan kosmologi. Dalam pandangan dunia masyarakat adat Papua, alam bukan objek mati. Alam adalah subjek hidup yang memiliki roh dan makna.
Filsuf Norwegia Arne Næss menyebut pandangan seperti ini sebagai deep ecology, sebuah pemahaman bahwa manusia adalah bagian dari jaringan kehidupan yang luas.
Namun bagi orang Maybrat, gagasan ini bukan teori akademik, tapi adalah pengalaman hidup. Hutan bukan sekadar ruang ekonomi tempat berburu atau berkebun. Hutan adalah ruang spiritual tempat leluhur hadir. Setiap pohon, batu, sungai, dan bukit memiliki cerita.
Antropolog Philippe Descola dalam bukunya Beyond Nature and Culture menjelaskan bahwa banyak masyarakat adat tidak memisahkan manusia dari alam sebagaimana dilakukan dalam modernitas Barat. Mereka melihat dunia sebagai jaringan relasi antara manusia, hewan, tumbuhan, dan roh.
Apa yang dikatakan Descola terasa sangat dekat dengan pengalaman yang kudengar malam itu di Susumuk. Para tetua tidak menggunakan istilah akademik. Tetapi melalui cerita tentang keret, mereka sebenarnya sedang menjelaskan ontologi alam, sebuah cara memahami keberadaan manusia di dalam kosmos.
Puncak dari diskusi malam itu bermuara pada satu entitas sakral: Tah. Para tetua menyebutnya dengan penuh hormat. Mereka tidak hanya menyebutnya sebagai daun, melainkan sebagai bagian dari kehidupan spiritual masyarakat Maybrat.
Tah adalah mediator. Menjadi jembatan antara manusia, leluhur, dan Pencipta. Dalam tradisi Maybrat, Tah hadir dalam banyak peristiwa penting. Ketika kebun baru dibuka, yang disebut kahren, daun ini digunakan sebagai simbol permohonan berkat.
Daun itu ditanam atau ditempatkan sebagai tanda bahwa tanah yang akan digarap bukan sekadar ruang produksi, melainkan ruang kehidupan yang harus dihormati.
Tah juga hadir di tempat-tempat pamali yang disebut totor. Tempat-tempat ini sering kali dianggap sakral karena berkaitan dengan sejarah leluhur atau peristiwa spiritual tertentu.
Dengan menanam Tah di sana, masyarakat menegaskan batas antara ruang manusia dan ruang roh.
Dalam ritual pendidikan adat seperti Wofle, daun ini juga menjadi saksi bisu. Wofle adalah proses pembelajaran budaya yang membentuk generasi muda agar memahami nilai-nilai komunitas.
Dalam konteks ini, Tah bukan hanya simbol. Ia adalah pengingat bahwa pengetahuan tidak lahir dari buku semata, melainkan dari hubungan dengan alam.
Alam sebagai Doa
Ketika mendengar penjelasan tentang Tah, saya teringat pada gagasan teologi pembebasan yang sering dibicarakan oleh para teolog Amerika Latin seperti Leonardo Boff.
Boff menulis bahwa bumi bukan sekadar rumah bagi manusia, tetapi juga tubuh yang hidup, Gaia yang harus dihormati. Dalam bukunya Cry of the Earth, Cry of the Poor, ia menegaskan bahwa krisis ekologis tidak bisa dipisahkan dari krisis spiritual.
Apa yang dikatakan Boff terasa relevan dengan filosofi Tah. Bagi orang Maybrat, alam adalah doa, obat, identitas, sekaligus medium spiritual. Ketika Tah digunakan dalam ritual, masyarakat sebenarnya sedang berbicara dengan alam. Mereka memohon berkat, perlindungan, dan keseimbangan.
Dalam dunia modern yang semakin industrial, cara pandang seperti ini sering dianggap kuno. Namun banyak ilmuwan lingkungan justru mulai menyadari bahwa masyarakat adat memiliki pengetahuan ekologis yang sangat dalam.
Penelitian organisasi seperti World Wildlife Fund menunjukkan bahwa wilayah yang dikelola masyarakat adat sering memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang lebih tinggi dibandingkan wilayah yang dikelola secara industri. Ini menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan sekadar tradisi, melainkan strategi keberlanjutan.
Malam semakin larut di Susumuk. Hujan mulai reda, tetapi tanah masih basah. Aroma hutan menguar ke udara. Saya menyadari bahwa cerita tentang keret dan Tah bukan hanya kisah masa lalu. Ini adalah peta identitas.
Dalam dunia yang berubah cepat, dengan jalan baru, proyek pembangunan, dan eksploitasi sumber daya, identitas ekologis seperti ini sering berada di ambang kepunahan.
Ketika hutan hilang, bukan hanya pohon yang lenyap. Cerita juga ikut hilang. Lalu ketika cerita hilang, identitas pun perlahan memudar.
Para antropolog sering mengatakan bahwa bahasa, mitos, dan ritual adalah arsip hidup sebuah masyarakat. Jika arsip ini rusak, generasi berikutnya kehilangan jembatan untuk memahami siapa mereka sebenarnya.
Papua, termasuk wilayah Maybrat, sering disebut sebagai salah satu benteng terakhir hutan tropis di dunia. Organisasi seperti Greenpeace berulang kali mengingatkan bahwa hutan Papua memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas iklim global.
Namun bagi masyarakat Maybrat, nilai hutan tidak hanya terletak pada fungsi ekologisnya. Ia adalah bagian dari identitas. Jika hutan hilang, maka hubungan antara manusia, keret, dan alam juga akan terputus.
Dalam konteks ini, menjaga hutan bukan hanya soal konservasi lingkungan. Tapi upaya mempertahankan kosmologi.
Malam itu akhirnya berakhir. Para tetua perlahan bangkit dari tempat duduk mereka. Api di dapur mulai padam, dan udara semakin dingin. Hujan tinggal menyisakan tetesan kecil di daun-daun.
Saya berjalan keluar rumah dan melihat hutan yang gelap. Di kejauhan, seekor burung malam bersuara. Saat itulah saya tersadar bahwa menjadi orang Maybrat berarti hidup dalam ritme yang sama dengan alam.
Getah pohon yang mengalir di batangnya. Kepakan sayap burung yang membelah angin. Bunga yang mekar perlahan di hutan. Semua itu bukan hanya bagian dari alam. Ini adalah bagian dari diri kita sendiri.
Mungkin itulah pelajaran paling dalam dari malam hujan di Susumuk: bahwa manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari bumi. Kita lahir dari tanah yang sama, bernapas dari udara yang sama, dan suatu hari nanti akan kembali menjadi bagian dari semesta yang kita sebut rumah.
(*) Imanuel Tahrin adalah penulis artikel ini. Dia seorang aktivis lingkungan, pemerhati budaya dan pendiri komunitas Peduli Tata Ruang (Petarung) Papua yang berbasis di Kampung Susumuk, Maybrat. Tulisan ini di kutip dari wenebuletin





